Dia mengangkat pandangannya ke arah naga raksasa yang masih melayang di langit, masih mengamuk meski sebagian besar pasukan Monrest sudah musnah. Lynx menghela napas, lalu dengan langkah ringan, ia melompat ke udara, tubuhnya melesat dengan kecepatan yang mustahil bagi manusia biasa. Dalam sekejap, ia berada di depan kepala naga itu.

Dengan gerakan sederhana, Lynx mengayunkan tinjunya ke arah kepala naga. Pukulan itu terlihat biasa saja, tanpa kekuatan berlebihan atau efek spektakuler. Namun, begitu tinjunya mengenai kepala naga, makhluk raksasa itu langsung terdiam. Suara dentuman lembut terdengar, dan tubuh naga itu jatuh ke tanah dengan keras, menciptakan kawah besar. Naga itu mati seketika.

Lynx melayang di udara, memandang tubuh naga yang tergeletak tak bernyawa. Di dahinya, sebuah batu bersinar dengan warna gelap kemerahan. "Itu... batu kristal spiritual iblis," pikir Lynx. Dia segera turun dan berdiri di atas kepala naga, tangannya meraih batu itu. Dengan mudah, ia mencabut batu spiritual iblis dari dahi makhluk tersebut, sinarnya perlahan meredup di tangannya.

Namun, Lynx tidak berhenti di situ. Ia berkonsentasi sejenak dan sebuah benda melayang dari perut naga tersebut. Sebuah cincin yang awalnya dipakai oleh leluhur Monrest, kini terbang dan kembali ke tangan Lynx.

"Huh, dia menyegelnya dengan percuma. Kematiannya membuat cincin ini menjadi tidak bertuan lagi." Lynx kembali memasangkan cincin itu di jari manis kirinya, tempat semestinya.

Dia mengalirkan energinya ke cincin penyimpanan itu, lalu menyimpan batu spiritual iblis dengan hati-hati di dalamnya. "Ini mungkin bisa berguna nanti," gumamnya.

Sementara itu Pulau mulai bergetar hebat. Tanah retak semakin besar, dan suara gemuruh terdengar dari dalam bumi. Lynx menyadari bahwa kehancuran pulau ini tidak bisa dihindari lagi. Dengan cepat, ia memejamkan matanya, menggunakan kepekaannya untuk memeriksa seluruh pulau. Dia merasakan sisa-sisa pecahan batu meteor yang digunakan Leluhur Monrest untuk membuat formasi tersebar di berbagai tempat.

"Apa yang terjadi?" suara kepanikan terdengar kembali dari penduduk Surya.

"Lala, kamu melihatnya? Lynx membunuh naga itu?" kata Rira dengan antusias.

Para tetua dan penduduk, semua menyaksikan kejadian yang jauh diluar nalar mereka. Leluhur Monrest, hanya dalam sekali serang, langsung menjadi makanan naga tersebut, namun kepala suku mereka, Lynx, justru dengan sekali serang, membunuh naga tersebut. "sekuat apa kepala suku kita?" batin semua orang.

"Getaran apa ini? " tanya salah satu penduduk yang masih merasakan getaran ditanah setelah naga itu terjatuh.

"Benar, ini bukan getaran dari mahluk itu. " dia lalu mendekatkan telinganya ke tanah dan bangun dengan panik," tetua, suara ini berasal dari bawah kita, aku mendengar suara retakan." katanya dengan panik.

Kepanikan dan ketakutan muncul kembali di wajah mereka. Dalam sehari,perasaan bahagia,dan takut, datang silih berganti mereka rasakan.

Lynx membuka matanya dan mengulurkan tangannya. Pecahan-pecahan batu meteor itu, meski tersebar jauh karena efek serangan leluhur Monrest, mulai bergerak sendiri, melayang di udara menuju ke arahnya. Dalam hitungan detik, semua pecahan itu berkumpul di depan Lynx, membentuk lingkaran kecil. Dengan tenang, ia mulai menggambar pola formasi di udara seperti yang dibuat oleh leluhur Monrest dan memadukan energi yang tersisa dari batu meteor dengan kekuatannya sendiri.

Formasi itu bersinar terang, menciptakan lingkaran besar yang memancarkan cahaya putih kebiruan. Lingkaran itu perlahan membesar, hingga akhirnya berubah menjadi sebuah portal dimensi. Udara di sekitarnya terasa lebih tenang, seolah portal itu menstabilkan keadaan di pulau tersebut.

Lynx kemudian melepaskan ikatan Leena dengan kekuatannya. Leena yang merasa tali yang mengikat tubuhnya terlepas segera berlari dan memeluk Lynx.

"Aku tidak menduga akan melihatmu lagi, aku kira akan mati kali ini," kata Leena sambil mengeluarkan air mata bahagia. Pelukannya semakin erat.

"Leena, aku senang kalian selamat, tapi kita sedang dalam bahaya. Pulau ini akan segera hancur dan tenggelam ke dalam lautan. Kita harus segera keluar lewat portal dimensi itu." jawab Lynx sambil menunjuk ke arah portal.

"Bagaimana dengan yang lainnya? kita tidak bisa meninggalkan mereka disini," kata Leena dengan khawatir.

"Tenang saja, aku akan mengeluarkan mereka. Arahkan mereka masuk segera ke portal. Aku akan menahan pulau ini." kata Lynx sambil mengerahkan kekuatannya.

Di cekungan, penduduk Surya yang tadinya putus asa kini terangkat ke udara dengan perlahan. Lynx menggunakan kekuatannya untuk mengangkat mereka semua keluar dari cekungan, satu per satu. Lala, Narendra, dan semua penduduk lainnya merasa tubuh mereka terangkat dengan lembut, tidak ada rasa sakit atau ketakutan.

Setelah semua penduduk keluar dari cekungan, Leena berdiri di hadapan mereka, menunjuk ke arah portal yang berkilauan. "Masuklah ke dalam portal itu," katanya dengan suara keras dan tegas. "Pulau ini akan segera runtuh. Itu satu-satunya jalan keluar."

Para penduduk awalnya terdiam, tidak percaya dan bingung dengan apa yang mereka lihat. Namun, Leena melangkah maju, menatap Lynx dengan penuh keyakinan. "Ayo, kita harus pergi sekarang! Portal itu Lynx yang membuatnya." serunya, memimpin penduduk lainnya menuju portal.

Lala menggenggam tangan Kanha yang gemetar ketakutan, membimbingnya menuju portal. "Cepat, Kanha. Lynx menyelamatkan kita semua," katanya dengan lembut.

Narendra dan Kael membantu beberapa orang tua dan anak-anak berjalan menuju portal, memastikan tidak ada yang tertinggal. Satu per satu, penduduk Surya mulai masuk ke dalam portal, meninggalkan pulau yang mulai runtuh.

Lynx berdiri diam di belakang, memantau semua orang masuk dengan aman. Tubuhnya tetap tegap, tetapi matanya mengawasi setiap sudut, memastikan tidak ada yang tertinggal di pulau yang sebentar lagi akan hancur. "Ayo, cepatlah," gumamnya, suaranya rendah namun penuh tekad.

Leena, Kael, Narendra, Karim, Darek, Jelita, Arkham, Rira dan Lala kembali untuk menemui Lynx. Kedekatan mereka selama ini membuat mereka merasa harus melakukan secara bersama-sama. Meski tidak dapat membantu karena tidak memiliki kekuatan, tetapi rasa setia kawan dan kekeluargaan, membuat mereka tidak mampu meninggalkan Lynx sendirian.

Lynx berdiri di depan portal utama, namun matanya memandang jauh ke kejauhan. Dengan kepekaannya, dia merasakan adanya puluhan orang yang masih tersebar di berbagai penjuru pulau. Mereka adalah para penduduk yang masih tersebar, dan juga para penjaga suku Surya yang tidak ikut tertangkap, termasuk juga rombongan penduduk yang ingin bergabung dengan suku Surya dan masih diperjalanan tanpa mengetahui kejadian besar yang terlah terjadi. "Aku tidak bisa membiarkan mereka mati di sini," pikirnya.

"Lynx, bagaimana keadaannya. Semua sudah masuk, tinggal dirimu." Kata Leena dengan nada khawatir.

Lynx memandang mereka,"Kebetulan kalian datang, apakah bisa menolongku?"

"Tentu Lynx, kami akan senang dapat membantumu," kata Lala yang diikuti anggukan kepala oleh yang lainnya tanda setuju.

"Masih ada banyak orang dipulau ini, aku akan membuatkan portal teleportasi. Kalian jemputlah mereka dan bawa ketempat ini. Dan antarkan mereka ke portal dimensi. Aku akan memastikan pulau ini tetap bertahan hingga kalian kembali." Kata Lynx lalu terbang ke langit dan membuat formasi.

Dengan satu gerakan tangan, Lynx mulai menggambar lingkaran formasi di udara. Belasan portal teleportasi kecil terbuka di hadapannya, masing-masing memancarkan cahaya biru yang menenangkan.

"Kalian semua masuklah masing-masing ke portal-portal ini yang akan mengarahkan kalian ke tempat mereka berada. Ingat kalian harus cepat, kekuatanku tidak bisa menahan lama runtuhnya pulau ini karena penunjangnya sudah tidak ada." perintah Lynx dengan suara tegas namun lembut.

Tanpa ragu, Kael melangkah maju. "Aku mengerti. Ayo, semuanya, kita harus bergerak sekarang!" serunya sambil melangkah masuk ke salah satu portal, diikuti oleh orang-orang lainnya.

Leena menatap Lynx sekali lagi, matanya penuh kekhawatiran. "Kamu akan baik-baik saja, kan?"

Lynx tersenyum samar. "Aku harus memastikan pulau ini tidak tenggelam sebelum kita semua keluar. Pergilah sekarang, Leena. Selamatkan mereka."

Leena menggigit bibirnya, lalu mengangguk. "Baiklah... aku percaya padamu."

Sebelum pergi, Leena memeluk Lynx dan mencium bibirnya dengan mesra, melepaskan kerinduannya.

"Pergilah sekarang. Ingat hati-hatilah!" kata Lynx sambil menatap lembut Leena.

Dengan cepat, Leena melangkah masuk ke salah satu portal, diikuti oleh Lala dan Jelita.

